Jumat, 18 September 2009

Problem mudik pake motor


Bagi pemudik yang mengandalkan sepeda motor, mereka harus paham akan penyakit tunggangannya. Apalagi jika jalur yang mereka lewati padat akan kendaraan, laju kendaraan pun jadi tidak normal sehingga memaksa pengendara "memeras" tuas kopling (untuk motor jenis sport dan bebek) plus pedal rem (baik tangan maupun kaki).

Demikian halnya pemudik dengan sukter matik. Mereka bukan berarti bisa aman ketika menghadapi jalanan yang padat. Problem tetap ada. Apa saja sih, gangguan pada motor kala mudik?

Hampir semua motor punya karakter masalah yang sama dalam menghadapi kemacetan. Kalau jenis sport dan bebek kopling, masalahnya hampir sama. Karena terlampau sering stop and go dengan jarak yang jauh, kopling berisiko selip. Artinya, risiko kampas kopling hangus bisa saja terjadi. Ada baiknya, sebelum melakukan ritual mudik, ganti komponen tersebut.

"Jangan karena sudah ganti kampas baru, pas mudik lebih banyak gantung RPM ketika macet. Sama juga bohong. Bisa bikin kampas kopling hangus," ungkap Soebronto Laras alias Bronx, pemilik bengkel Mandiri Motor (M2) di Jakarta Barat.

Problem lainnya, untuk motor dengan manual clutch, kabel kopling bisa cepat getas lantaran terlalu sering digantung. Jangan terlalu percaya diri, sekalipun sudah ganti baru sebelum berangkat. Nah, saat ganti baru, sebaiknya pakai punya Vespa karena bandel.

Penyakit lainnya, rem. Karena kaki keseringan menginjak pedal—bisa terus berlangsung tanpa disadari—meski hanya setengah, teromol jadi panas. Bahayanya, bila kualitas kampas jelek, teromol bisa termakan.

Bagi pengguna skutik, bukan berarti mereka tidak punya masalah saat terlalu sering stop and go. Yang perlu diperhatikan pada komponen, selain rem, adalah CVT. "Paling utama, awasi kondisi belt. Sebelum mudik, sebaiknya ganti dulu karena sabuk menerima beban putaran CVT," saran Arif Mutaqin, mekanik dan pemilik bengkel Rif Tech, Jakarta Timur.

Sekadar mengingatkan, buat skutik yang sudah mengalami bore up, temperatur cepat naik. "Maksimalnya 150 cc karena masih aman dan kuat untuk material blok silinder. Ini pun harus memerhatikan oli," tegas Arif

Tidak ada komentar: